Sabtu, 01 Februari 2014

TUGAS KELOMPOK, KAJIAN LONTAR WRHASPATI TATWA



Kajian Lontar Wrhaspati Tattwa

I           Pendahuluan
             Wrhaspati Tattwa adalah sebuah lontar yang tergolong tua usianya. Lontar ini menguraikan ajaran tentang kebenaran tertinggi yang bersifat Siwastik yang diuraikan secara sistematik. Wrhaspati Tattwa terdiri dari 74 pasal/sloka yang menggunakan bahasa Sansekerta dan Bahasa Jawa Kuno. Bahasa Sansekertanya disusun dalam bentuk sloka dan Bahasa Jawa Kunonya disusun dalam bentuk bebas (gancaran) yang dimaksudkan sebagai terjemahan atau penjelasan bahasa Sansekertanya. Lontar Wrhaspati Tattwa merupakan sebuah lontar mengandung ajaran samkya dan yoga. Bagian yang mengajarkan pembentukan alam semesta beserta isinya mengikuti ajaran samkya dan bagian yang mengajarkan etika pengendalian diri mengambil ajaran yoga.
          Secara etimologi Vrhaspati tattwa berasal dari kata “Whraspati” dan “Tattwa”, pengertian Wrhaspati adalah nama seorang bhagawan di sorga,,hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam Wrhaspati Tattwa Sloka 1 yang berbunyi sebagai berikut:
          Irikang kala bana sira wiku ring swarga
          Bhagawad Whraspati ngaran ira
          Sira ta maso mapuja di Bhatara.

Terjemahannya:
Pada saat itu ada seorang petapa di sorga bernama Wrhaspati, Ia datang dan memuja Hyang Iswara ( Putra dkk, 1998 : 1 ).

          Kemudian menurut Watra (2007 : 1) Tatwa berasal dari bahasa sansekerta. Tattwa memiliki berbagai pengertian seperti : kebenaran, kenyataan, hakekat hidup, sifat kodrati, dan segala sesuatu yang bersumber dari kebenaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa Wrhaspati Tattwa berarti ajaran kebenaran atau hakekat kebenaran dharma dari Bhagawan Wrhaspati.
          Wrhaspati Tattwa berisi dialog antara seorang guru spiritual yaitu Sang Hyang Iswara dengan seorang sisya beliau yaitu Bhagawan Wrhaspati. Iswara dalam konsep pengider-ider di Bali adalah Dewa yang menempati arah timur. Iswara tidak lain adalah aspek dari Siwa sendiri. Di dalam Wrhaspati Tattwa disebutkan bahwa Hyang Iswara berstana di puncak Gunung Kailasa yang merupakan puncak gunung Himalaya yang dianggap suci. Sedangkan Bhagawan Wrhaspati adalah orang suci yang merupakan sebagai guru dunia (guru loka) berkedudukan di Sorga. Dalam dialog tersebut, Sang Hyang Iswara mencoba menjelaskan kebenaran tertinggi tentang Siwa kepada Bhagawan Wrhaspati dengan metode tanya jawab.
            Ajarannya ini diterjemahkan dalam 74 sloka berbahasa Sansekerta yang di terjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno. Wrhaspati Tattwa merupakan naskah jawa kuno yang bersifat realistis. Di dalam menyajikan ajarannya dirangkum dalam suatu mitologi yang tujuannya untuk mempermudah ajaranitu dimengerti.Mengingat ajaran filsafat atau Tattwa yang tinggi seperti ini memang sulit untuk dimengerti.

MERAJAN



Pendahuluan
            Keharusan mengetahui asal-usul bagi penganut Hindu di Bali, tidak dapat di pungkiri lagi. Hal ini berkaitan dengan pengalaman Agama Hindu yang di anut oleh Umat Hindu Bali mengharuskan dilakukannya suatu kewajiban suci berupa yadnya yang di sebut Pitra Puja atau Pitra Yadnya, salah satu dari lima kewajiban yang disebut Panca Yadnya adalah merupakan penjabaran dari ajaran Tri Rnam (hutang kepada tiga unsur), yaitu hutang manusia kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), hutang kepada para Rsi/Wipra dan hutang manusi  kepada leluhur/ Kawitan.
            Kira-kira pada abad XIII. Mpu Sidhimantra datang ke Bali. Di Bali beliau menurunkan seorang putra yang diberi nama Mpu Manik Angkeran (Sang Bang Manik Angkeran). Baik Mpu Sidhimantra maupun satu-satunya putra beliau rupanya mengabdikan diri sepenuhnya di Pura Batumadeg Besakih.atas jasa dan pengabdian beliau dalam bidang keagamaan di Bali, untuk beliau juga dibangun masing-masing sebuah pelinggih berbentuk meru.
            Berdasarkan pralintih dapat diketahui, bahwa Sang Bang Manik Angkeran adalah keluarga dekat Dalem Samprangan (sepupu satu) hanya perbedaan beliau mungkin cukup besar, mengingat Mpu Sidhimantra adalah saudara tertua Mpu Kepakisan dari 4 Mpu bersaudara atau yang lebih terkenal pula dengan sebutan Sang Catur Rsi/ Sang Catur Pandita.
            Pernah timbul anggapan dalam masyarakat, sehubungan dengan ‘Padharman’ bahwa ‘Padharman’ mereka ada di komplek Pura Barumadeg Besakih. Hal ini didasarkan dengan adanya seorang Rohaniawan yang sekaligus juga menjadi pendiri atau penubuh dari warga dengan pembentukan pelinggih, baik berbentuk meru maupun gedong terdapat di Komplek Pura Batumadeg Besakih.
            Anggapan seperti itu sesungguhnya keliru karena beliau-beliau yang diabadikan disana  dalam sebuah pelinggih dalam kapasitas sebuah Dang Guru Jagat dan bukan sebagai pendiri atau penubuh sebuah warga. Adapun tempat menghadap beliau selaku ‘kawitan’ oleh para damuhnya adalah di Pura Padharmanbagi warga yang telah memilikinya dan yang belum dalah di Pura Kawitan.
            Karena Mpu Sidhimantra adalah saudara tertua dari Sang Catur Rsi, keberadaan ketiga cucu beliau (Mpu Sidhimantra), rupanya sebaya dengan para putra Mpu Kepakisan. Salah seorang tiga bersaudara putra Sang Manik Angkeran yang bernama Ide Banyak Wide, pergi Kemajapahit (Jawa), ingin menjadi Mpu Sidhimantra. Menurut kisah Babad Mpu Sidhimantra kala itu telah pulang kea lam gaib. Singkat cerita Ide Banyak Wide kemudian jatuh cinta kepada Ni Gusti Ayu Pinatih, putrid satu-satunya Patih Arya Beletung. Ki Arya Beletung merelakan putinya kawin dengan Ida Banyak Wide,dengan syarat Ide Banyak Wide harus menjadi sentana Ki Arya Beletung, Ida Banyak Wide dapat menyetujuinya.
Tahun  1350 M, Turunlah rombongan Dalem Samprangan ke Bali, bersama para Bhujangga dan para Arya,di antaranya Banyak Wide yang di Bali lebih di kenal dengan sebutan I Gustu Pinatih. Tempat dimana setelah tiba di Bali, I Gusti Pinatih membangun puri bersama pengiring, lama-lama setelah menjadi sebuah desa, desa itu bernamalah Desa Pinatih.
Sekitar tahun 1453, salah seorang keturunan I Gusti Pinatih, oleh Dalem Gelgel I (1380-1460),di angkatlah menajdi Anglurah di sutu dearah kekuasan bernama Singarsa Bangli. I Gusti Ngurah Bija Pulaga Pinatih dengan pengiring 455 orang berbekal keris pajenengan Ki Loting dan sebuah pedang, pada hari senin tiba di Bangli, serta berpuri di Desa Bale Agung Bangli.
            Salah seorang saudara Ide Banyak Wide yang bernama Ide Wayabhya (Ida Kajekauh), rupanya masih tekun menjalani dharma kependetaan. Beliau telah podgala dan bergelar Rsi Bhujangga Penulisan. Konon beliau cukup lama mengabdi di Penulisan.
PEMBAHASAN
1.1 Pura Keluarga / Merajan
            Merajan atau sanggah adalah tem pat suci untuk memuliakan arwah suci para leluhur terutama ibu bapak yang sudah tiada dan berada di alam baka (sunia loka) bagi masyarakat Hindu di Bali disebut Merajan atau Sanggah. Di lihat dari istilah kedua kata itu berasaldari bahasa sansekerta, yaitu raja yang juga disebut rajan yang secara umum juga berarti raja, ialah sebutan atau gelar kepala pemerintahan dari suatu system pemerintahan kerajaan dan merupakan jabatan yang mulai atau dimuliakan. Timbul tradisi dan kebiasaan bilamana menyebut sorang raja didahului dengan kata penghormatan  seperti misalnya dengan kata yang mulia. Kata rajan dalam bahasa sansekerta kemudian memperoleh awalan ma lalu menjadi merajan yang bermakna tempat memuliakan dan memuja yang dalam hal ini untukmemuliakan dan memuja arwah suci para leluhur terutama ibu bapak yang sudah tiada.

SILSILAH ARYA WANG BANG PINATIH



Mpu Bradah
(Jawa Ttimu) Menurunkan
Mpu Tantular
1.      Danghyang Kepakisan
2.      Danghyang Smaranata
3.      Danghyang Sidimantra
4.      Danghyang Panawasikan
1.      Mpu Siwagandu
2.      Ni Dyah Widawati
3.      Mpu Bahula
Danghyang Smaranata t5idak punya putra. Tapi dapat anugrah dari Yang Maha Kuasa berupa “pertama” yang secara gaib berubah menjadi manusia dank arena itu dianggap angker lalu diberi nama Bang Manik Angkeran. Setelah dewasa beliau menikah 3 kali:
1.      Dengan Ni Luh Warsiki putri dari Ki Dukuh Belatung.
2.      Dengan seorang Bidadari.
3.      Dengan Ni Luh Merdani dari Besakih.
Dari istri no.1 menurunkan Ida Bang Banyak Wide.
Dari istri no. 2 menurunkan Ida Tulus Dewa.
Dari istri no. 3 menurunkan Ida Bang Kajakauh.
SILSILAH ARYA WANG BANG PINATIH (KI GUSTI PINATIH)



Ida Bang Banyak Wide di angkat anak oleh Mpu Sedah.
Ki Arya Beleteng, Seorang Patih Raja Kadiri berputra.
Ida Tulus Dewa menurunkan.
Ida Bang Kajakauh. (Wayabhya).
1.      Ida Penatara.
2.      Ida Toh Jiwa
3.      Ida Singarsa.
Ni Gusti Ayu Pinatih (karena menjadi Patih, anaknya dinamakan Ayu Pinatih.
Ida Bang Banyak Wide kawin nyeburin dengan Ni Gusti Ayu Pinatih, dengan melepaskan kawangsaan Brahmananya menjadi wangsa Arya (Ksatria) kewangsaan mengikuti Arya Beleteng.
Ida Di Made diangkat sebagai anglurah di Sidemen.
Ida Bagus Bang Pinatih
Ida Bagus Pinatih.
Menurunkan: Warga Arya Wang Bang Pinatih atau Ki Gusti Pinatih.
Menurunkan: Warga Arya Wang Bang Sidemen.
Menurunkan : Warga Arya Wang Bang Wayabhya (Wang Bang Kajekauh)
 

MAKNA BANTEN DALAM PERSEMBAHYANGAN



MAKNA CANANG SARI DALAM PERSEMBAHYANGAN

1.       Makna Canang Sari
Canang Sari merupakan ciptaan dari Mpu Sangkulputih yang menjadi sulinggih menggantikan Danghyang Rsi Markandeya di Pura Besakih.Canang sari ini dalam persembahyangan penganut Hindu Bali adalah kuantitas terkecil namun inti (kanista=inti). Kenapa disebut terkecil namun inti, karena dalam setiap banten atau yadnya apa pun selalu berisi Canang Sari. Canang sari sering dipakai untuk persembahyangan sehari-hari di Bali. Canang sari juga mengandung salah satu makna sebagai simbol bahasa Weda untuk memohon kehadapan Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa yaitu memohon kekuatan Widya (Pengetahuan) untuk Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung.
Canang berasal dari kata "Can" yang berarti indah, sedangkan "Nang" berarti tujuan atau maksud (bhs. Kawi/Jawa Kuno), Sari berarti inti atau sumber. Dengan demikian Canang Sari bermakna untuk memohon kekuatan Widya kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa (manifestasi) Nya secara skala maupun niskala. Dalam dokumen tersebut juga dijelaskan mengenai bentuk dan fungsi canang menurut pandangan Hindu Bali ada beberapa macam sesuai dengan kegiatan upakara yang dilaksanakan. Di bawah ini penjabaran mengapa canang dikatakan sebagai penjabaran dari bahasa Weda, hal ini melalui simbol-simbol sebagai berikut :
  1. Canang memakai alas berupa "ceper" (berbentuk segi empat) adalah simbol kekuatan "Ardha Candra" (bulan).
  2. Di atas ceper ini diisikan sebuah "Porosan" yang bermakna persembahan tersebut harus dilandasi oleh hati yang welas asih serta tulus kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa Nya, demikian pula dalam hal kita menerima anugerah dan karunia Nya.
  3. Di atas ceper ini juga berisikan seiris tebu, pisang dan sepotong jaja (kue) adalah sebagai simbol kekuatan "Wiswa Ongkara" (Angka 3 aksara Bali).
  4. Kemudian di atas point 2 dan 3 di atas, disusunlah sebuah "Sampian Urasari" yang berbentuk bundar sebagai dasar untuk menempatkan bunga. Hal ini adalah simbol dari kekuatan "Windhu" (Matahari). Lalu pada ujung-ujung Urasari ini memakai hiasan panah sebagai simbol kekuatan "Nadha" (Bintang).
  5. Penataan bunga berdasarkan warnanya di atas Sampian Urasari diatur dengan etika dan tattwa, harus sesuai dengan pengider-ideran (tempat) Panca Dewata. Untuk urutannya saya menggunakan urutan Purwa/Murwa Daksina yaitu diawali dari arah Timur ke Selatan.
Bunga berwarna Putih (jika sulit dicari, dapat diganti dengan warna merah muda) disusun untuk menghadap arah Timur, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari (Bidadari) Gagar Mayang oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Iswara agar memercikkan Tirtha Sanjiwani untuk menganugerahi kekuatan kesucian skala niskala.
Bunga berwarna Merah disusun untuk menghadap arah Selatan, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Saraswati oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Brahma agar memercikkan Tirtha Kamandalu untuk menganugerahi kekuatan Kepradnyanan dan Kewibawaan.
Bunga berwarna Kuning disusun untuk menghadap arah Barat, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Ken Sulasih oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Mahadewa agar memercikkan Tirtha Kundalini untuk menganugerahi kekuatan intuisi.
Bunga berwarna Hitam (jika sulit dicari, dapat diganti dengan warna biru, hijau atau ungu) disusun untuk menghadap arah Utara, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Nilotama oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Wisnu agar memercikkan Tirtha Pawitra untuk menganugerahi kekuatan peleburan segala bentuk kekotoran jiwa dan raga.
Bunga Rampe (irisan pandan arum) disusun di tengah-tengah, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Supraba oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Siwa agar memercikkan Tirtha Maha mertha untuk menganugerahi kekuatan pembebasan (Moksa).
Bunga canang, kembang rampe, porosan adalah simbol dari Tarung / Tedung dari Ong Kara (isi dari Tri Bhuwana (
Tri Loka) = Bhur-Bwah-Swah).

a.      Konsep penyatuan Sivasiddhanta dalam canang sari
Canang Genten/canang sari, bentuknya : memakai alas yang berupa ceper atau yang berupa reringgitan,disusun dengan plawa(daun),Porosan yang berupa sedah berisi apuh dan jambe diikat dengan tali porosan,disusun dengan tempat minyak,bunga dan pandan arum yang bermakna penyatuan pikiran yang suci untuk sujud bhakti kehadapan Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Brahma Wisnu dan Iswara.

b.      Mantra Canang Sari.
Oṁ Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)
Oṁ tamolah panca pacara guru paduka bhyo namah swaha
Oṁ shri Deva Devi Sukla ya namah svaha

http://bebantenan.wordpress.com/makna-banten/

KESAKRALAN MANTRAM TRI SANDYA



KESAKRALAN MANTRAM GAYATRI
LUH EVI WIANI

Abstrak
            Mantram gayatri merupakan mantra inti dari segala mantra. begitu di sebutkan dalam kitab suci. Dari sekian mantra yang ada, Semuanya bersumber pada mantram gayatri. Maka tak heran kalau mantram gayatri sering disebut sebagai ibu dari segala mantra. Jika kita mengalami kebimbangan, ketakutan, kebingungan, ingatlah selalu dengan mengucapkan mantra gayatri berulang-ulang dengan tulus sampai pikiran anda merasa baikan kembali.
           
Mantra Gayatri telah dihormati selama ribuan tahun oleh umat Hindu dan Buddha yang juga disebut ”Mantra Cahaya Spiritual.”  mantra ini dipercayai dapat menyembuhkan tubuh, Roh dan menerangi intelektual kita. Mantra ini memiliki efek yang sama seperti Maha Mantra Mrityunjaya yang dapat menyembuhkan tubuh dari sakit dan depresi. Mantra Gayatri  adalah Sumber Mantra Veda yang lebih tinggi dari India, diyakini bahwa orang yang mengucapkan dan melapalkan Mantra Gayatri ini akan bebas dari segala beban dosa yang dilakukan.
Dengan Mantram Gayatri, kita bisa terbebas dari segala ketakutan. asalkan kita mempercayainya dan diucapkan dengan setulus hati. Berikut ini adalah Mantram Gayatri:

OM Bhur Bvah svah, tat savitur varenyam
Bhargo devasya dimahi, diyoyonah pracodayat
artinya:
Ya Tuhan Pencipta tiga loka ini,
Engkaulah sumber segala cahaya,
Engkau sumber kehidupan
Pencarkanlah pada budhi nurani ini, SinarMu yang maha suci







I. PENDAHULUAN
            Berdoa dan sembahyang adalah kewajiban kita sebagai mahkluk Tuhan sebagai ungkapan rasa syukur, memohon keselamatan dan kebahagiaan rohani/spiritual. Agama adalah jalan menuju kepada-Nya, dan setiap agama ada suatu ungkapan kata-kata indah dan relegius sebagai sarana komunikasi mendekatkan diri kepada Beliau Yang Maha Esa. Semua kata-kata suci tersebut tercantum dalam kitab suci agama masing-masing.
            Dalam agama Hindu secara universal kita mengenal yang namanya mantra/mantram. Mantra bukanlah hanya sekedar nyanyian kata-kata, namun sebagai sarana memusatkan pikiran menuju alam kebahagiaan spiritual Tuhan/Sang Hyang Widhi dan sebagai sarana komunikasi yang mempunyai nilai yang sangat religius. Mantra tidak hanya diucapkan berkali-kali tetapi juga harus dimengerti dan direnungkan. Dengan begitu anda akan dapat merasakan kebahagiaan spiritual menuju kepada Hyang Widhi.
            Sudah banyak diantara umat Hindu yang mengenal dan hafal mantra Gayatri, namun belum semua diantara yang hafal dan mengenal mantra Gayatri mengetahui apa saja kegunaan dari mantra yang sangat universal ini dan dianggap sebagai ibunya mantra.
            Mantra yang paling penting kita kenal dan merupakan pokok atau ibu dari semua mantra dan weda adalah mantram Gayatri. Mantra Gayatri juga menjadi bagian dalam mantra Tri Sandhya yang menjadi mantra persembahyangan umat Hindu di Bali.
            Umat Hindu disarankan memahami dan mampu paling tidak mengucapkan Mantra atau Puja Trisandyadan Kramaning Sembah, dua jenis mantram yang amat diperlukan pada waktu bersembahyang.







II. PEMBAHASAN
2.1 Definisi Mantra
            Mantra adalah sebuah pola gabungan kata-kata bahasa Veda yang diidentikan dengan dewa atau dewi tertentu.           Mantra- mantra yang ada sekarang adalah warisan yang kita dapatkan dari para Maharsi, Orang suci, Sadhu dan yogi yang telah mempraktekan berbagai mantra itu selama ribuan tahun , kini menuntun kita mengikuti jejak ajaran beliau. Mantra adalah sejumlah huruf, kata yang dijadikan satu.

Senin, 20 Januari 2014

Sekilas tentang Pura Besakih

Inilah asal mulanya ada Besakih, sebelum ada apa-apa hanya terdapat kayu-kayuan serta hutan belantara di tempat itu, demikian pula sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali). Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu panjang dan bernama Pulau Dawa. Di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (sekarang dikenal dengan nama Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya.
Beliau berasal dan Hindustan (India), oleh para pengiring-pengiringnya disebut Batara Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapan dan kebijaksanaannya (sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang Yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawa setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.
Sang Yogi Markandeya melaksanakan titah itu dan segera berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setelah tiba di tempat yang dituju Sang Yogi Markandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.